Kamis, 08 November 2012

11.Koordinasi & Dan hubungan kerja

KOORDINASI DAN HUBUNGAN KERJA


10:44 |
Pemateri :
Drs. H. Hisyam Ma’sum, M.Si

Kegiatan :
Diklat Pim IV angkatan XIV Tahun 2010

Hari/Tgl.:
Rabu,10 Maret 2010

Tempat :
Balai Diklat Keagamaan Jakarta


Dalam menghadapi kehidupannya, manusia masih tetap memiliki kelemahan-kelemahan untuk mampu bertahan hidup. Beruntung manusia tidak hanya memiliki naluri saja, melainkan dibekali akal dan pikiran.

Aristoteles mengatakan bahwa manusia adalah “Zoon Politikon” atau makhluk bermasyarakat. Hal ini disebabkan bahwa pada manusia terdapat naluri-naluri untuk mendekatkan diri dengan manusia lain seperti dorongan untuk berkomunikasi, dorongan untuk bergaul, dan dorongan untuk menyatakan perasaan kepada fihak lain. Dalam serba kelemahannya itu kemudian manusia merasa perlu melakukan kerja sama baik dalam menhadapi ancaman-ancaman maupun dalam mendapat keinginannya/tujuannya. Dengan demikian, pada akhirnya terbentuk kelompok manusia atas dasar ikatan-ikatan tertentu yang melahirkan marga, suku, kelompok gotong royong, mapalus dan sebagainya. Mereka bergabung dengan suka rela tanpa ada ikatan formal. Namun demikian ada pula kelompok yang didasarkan pada ikatan-ikatan formal yang saling menguntungkan secara timbal balik yang dapat disebut dengan organisasi formal.

Pada umumnya organisasi dibentuk oleh kelompok orang untuk mencapai tujuan. Apabila tujuan yang ingin dicapai semakin luas dan kompleks maka diperlukan kerjasama dan pembagian kerja dalam organisasi tersebut. Oleh karena tujuan organisasi adalah tujuan bersama, maka hubungan kerja antara bagian atau antara orang-orang yang tergabung dalam organisasi itu semakin menjadi penting. Agar koordinasi dan hubungan kerja dapat dilaksanakan secara optimal ( jelas dan transparan ), maka melakukan koordinasi harus memperhatikan aspirasi dari bawah serta diciptakan bentuk koordinasi yang memadai.

Koordinasi dan hubungan kerja merupakan faktor yang sangat dominan di dalam kehidupan suatu organisasi. Oleh karena itu, koordinasi dan hubungan kerja harus secara terus menerus di tingkatkan dalam rangka mencapai tujuan organisasi secara optimal.

Koordinasi merupakan pekerjaan yang tidak mudah, dan merupakan tugas para pemimpin (manajemen) dalam menuju pada pencapaian sasaran.

Berbagai jenis koordinasi, baik koordinasi vetikal maupun fungsioanal dan koordinasi lainnya, dimana semuanya memiliki tujuan yaitu dengan terwujudnya keterpaduan, keserasian dan keselarasan dari seluruh komponen yang terkait dengan pencapaian sasaran dan tujuan organisasi.

Kegagalan koordinasi biasanya disebabkan oleh kegagalan koordinasi dalam memikirkan dan mendapatkan alat-alat koordinasi yang akan mendukung pelaksanaan koordinasi tersebut. Di antara alat-alat organisasi tersebut adalah; Komunikasi, Organisasi matriks (kepanitiaan), Operating procedures, Rencana bersama, Desisi (keputusan) manajer puncak, Instruksi, Norma kebijakan dan peraturan, Asas-asas organisasi dan manajemen, Strategi, Idiologi.

Dalam rangka melakukan koordinasi dan hubungan kerja dengan semua pihak yang terkait untuk pencapaian tujuan organisasi. Semua pihak yang melakukan koordinasi dan hubungan kerja pada dasarnya melakukan komunikasi. Dalam melakukan komunikasi juga perlu memperhatikan elemen-elemen dan jenis-jenis komunikasi yang ada agar dapat berkomunikasi efektif. Disamping memehami konsep dan batasan / pengertian komunikasi, juga harus mengetahui secara jelas teknis dan hambatan dalam berkomunikasi. Untuk dapat mencapai keberhasilan dalam pelaksanaan koordinasi dan hubungan kerja, semua pihak harus menyadari dan mempehatikan hambatan-hambatan dan teknis-teknis berkomunikasi.

12.Pengorganisasian & Perkembangan masyarakat

Pengorganisasian dan Pengembangan masyarakat

"PENGORGANISASIAN DAN PENGEMBANGAN MASYARAKAT"
Pendahuluan :

Mata ajaran "Pengorganisasian dan Pengembangan Masyarakat" (selanjutnya akan disingkat sebagai PPM) diberikan oleh Jurusan Pendidikan Kesehatan dan Ilmu Perilaku FKMUI sejak tahun 1976. Semula merupakan mata ajaran yang diberikan hanya untuk peminatan (dulu dikenal sebagai program majoring) Pendidikan Kesehatan. Pada perkembangan selanjutnya, setelah penataan kurikulum dalam strata 1 dan strata 2 maka mata ajaran ini menjadi mata ajaran wajib bagi program studi jenjang DIII dan S1, mata ajaran wajib peminatan PKIP program studi S2 Kesehatan Masyarakat dan mata ajaran pilihan bagi peminatan lain pada program studi S2 Kesehatan Masyarakat.
Pembahasan ini dilakukan oleh Jurusan PKIP karena PPM dilihat sebagai salah satu “tehnologi” dalam kegiatan Pendidikan Kesehatan untuk mengorganisasi dan mengembangkan masyarakat sehingga terjadi perubahan perilaku sasaran (dalam bentuk kemampuan untuk mandiri atau self help) yang sifatnya berkelanjutan untuk tercapainya derajat kesehatan yang lebih baik.

Kedudukan dan peran PPM dalam "disiplin keilmuan" PKIP :

Minat pokok "disiplin keilmuan" PKIP dalam konteks kesehatan masyarakat adalah masalah perubahan perilaku kesehatan. Minat pokok ini yang menjadi ciri khas PKIP yang membedakannya dari "disiplin keilmuan" lain di bidang kesehatan masyarakat. "Disiplin keilmuan" Epidemiologi misalnya mempunyai minat pokok pada hal hal yang berkaitan dengan pola distribusi dan penyebaran penyakit, "disiplin keilmuan" Kesehatan Lingkungan mempunyai minat pokok pada hal hal yang berkaitan dengan lingkungan/ekologi dan demikian juga dengan "disiplin disiplin keilmuan" lainnya seperti Kependudukan dan Administrasi Kesehatan yang masing masing mempunyai minat pokok yang menjadi cirinya masing masing.
Dengan titik tolak pada minat pokoknya mengenai hal hal yang berkaitan dengan proses perubahan perilaku, dengan menggunakan kerangka yang dikembangkan oleh Lawrence Green, PPM merupakan tehnologi yang digunakan untuk melakukan intervensi pada faktor pendukung (enabling factors) sebagai salah satu prasyarat untuk terjadinya proses perubahan perilaku. Dengan tehnologi PPM dilakukan pengorganisasian dan pengembangan sumber daya yang ada pada masyarakat sehingga mampu mandiri untuk meningkatkan derajat kesehatannya.

Tujuan Pendidikan :

Tujuan umum dari mata ajaran ini adalah (1) diperolehnya pemahaman tentang pentingnya peran serta masyarakat dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dan (2) diperolehnya kemampuan untuk mengorganisasi dan mengembangkan masyarakat untuk menumbuhkan upaya kesehatan masyarakat yang mandiri dan berkelanjutan.

Ruang lingkup materi dan pokok pokok bahasan PPM :

1. Peristilahan PPM :

Penggunaan istilah PPM diambil dari konsep Pengorganisasian Masyarakat (Community Organization) dan Pengembangan Masyarakat (Community Development). Istilah yang "berbeda" tersebut terutama lebih disebabkan oleh sumber rujukan yang berbeda.
Community Organization terutama lebih banyak muncul dalam kepustakaan yang berasal dari atau berkiblat pada Amerika Serikat sedangkan Community Development" lebih banyak ditemukan dalam kepustakaan yang berasal atau berkiblat dari Inggris. Meskipun "nama"nya berbeda, tetapi isi dan konsepnya adalah sama. Keduanya berorientasi pada proses menuju tercapainya kemandirian melalui keterlibatan atau peran serta aktif dari keseluruhan anggota masyarakat. Mengingat kesamaan konsep tersebut, maka dalam kurikulum FKMUI materi bahasan ini disebut sebagai mata ajaran "Pengorganisasian dan Pengembangan Masyarakat".

2. Kedudukan kelompok sasaran sebagai subyek dan obyek :

Dalam pokok bahasan ini dibicarakan tentang kedudukan masyarakat sebagai subyek sekaligus obyek kegiatan pembangunan (kesehatan). Ini dikaitkan dengan pandangan tentang hakekat manusia yang bersifat psiko-analitik, humanistik dan behavioristik. Dalam kaitan ini juga dibahas perkembangan pendekatan dalam program kesehatan masyarakat dimana terjadi pergeseran dari pendekatan yang bersifat doing things to and for people menjadi doing things with people. Dalam menempatkan kelompok sasaran sebagai subyek kegiatan, dibahas juga tentang konsep "piring terbang", dimana upaya meningkatkan kesejahteraan masyarakat terutama dilihat sebagai upaya peningkatan dinamika mereka sendiri yang terwujudkan dalam efek "tinggal landas" (upward spirall movement). Intervensi luar dalam konsep ini harus menyesuaikan diri dengan kecepatan perputaran "piringan" dinamika masyarakat yang ada agar tidak timbul kegoncangan masyarakat.

3. Pengalaman belajar :

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, tujuan yang ingin dicapai oleh PPM adalah diperolehnya kemandirian masyarakat untuk meningkatkan derajat kesehatan. Untuk mencapai tujuan ini maka kegiatan kegiatan yang dilakukan dalam upaya PPM harus diarahkan pada diperolehnya pengalaman belajar dari kelompok sasaran. Akumulasi dari pengalaman belajar yang diperoleh secara bertahap ini kemudian akan menghasilkan kemampuan menolong diri sendiri dalam meningkatkan derajat kesehatannya.
Dalam bahasan ini dibicarakan tentang tiga situasi belajar dalam masyarakat, yaitu required outcome situation, recommended outcome situation dan self directed outcome situation.

4. Keterlibatan dan partisipasi/peran serta :

Dalam upaya untuk secara optimal memaparkan kelompok sasaran pada berbagai pengalaman belajar, maka keterlibatan kelompok sasaran merupakan suatu prasyarat penting (atau bahkan mutlak). Hal ini dikaitkan dengan Hukum Partisipasi seperti yang dikemukakan oleh Haggard, bahwa pengalaman belajar yang diperoleh kelompok sasaran akan meningkat dan lebih menetap jika kelompok sasaran dilibatkan dalam proses belajar.
Pembahasan mengenai partisipasi dilakukan dengan merujuk pada berbagai pengertian tentang partisipasi. Berbagai pengertian partisipasi ini dapat dikelompokkan dalam dua kelompok, yaitu pengertian partisipasi sebagai hak dan pengertian partisipasi sebagai kewajiban. Jika sebelumnya partisipasi dikaitkan dengan proses belajar, maka konsep dasar partisipasi sebetulnya juga erat kaitannya dengan kesediaan untuk berbagi kekuasaan (sharing of power). Dalam tinjauan ini maka dicoba dibahas tentang permasalahan yang
muncul sehubungan dengan upaya melibatkan kelompok sasaran dalam upaya kesehatan dari segi sharing of power.

5. Pendekatan direktif dan non direktif :

Dalam aplikasinya di masyarakat, upaya untuk melibatkan kelompok sasaran dihadapkan pada kenyataan bahwa situasi dan kondisi masyarakat yang berbeda beda. Sikon yang berbeda beda ini dapat dilihat sebagai suatu kendala dalam melibatkan sasaran secara aktif atau sebagai suatu kondisi yang memang harus dirubah. Disini dibahas tentang penerapan dari pendekatan direktif dan non direktif (directive and non directive approach) seperti yang diuraikan oleh T.R. Batten.
Secara realistis pragmatis, maka sikon masyarakat yang berbeda beda dalam upaya melibatkan masyarakat secara aktif, memang memerlukan pendekatan yang berbeda beda pula. Masyarakat yang lebih siap dapat dibina dengan pendekatan yang non direktif sedangkan masyarakat yang belum siap dapat mulai dibina dengan pendekatan yang direktif.
Meskipun demikian, aplikasi hal ini harus dengan disertai suatu kesadaran bahwa tujuan akhir adalah diperolehnya kemandirian dan oleh karena itu secara bertahap sesuai dengan kesiapan masyarakat perlu ditingkatkan pendekatan yang non direktif.

Pada masyarakat yang masih belum siap (1), maka pendekatan direktif dapat dipertimbangkanuntuk diterapkan sebagai awal tetapi kemudian secara bertahap dikurangi dan diikuti dengan peningkatan pendekatan yang sifatnya non-direktif (2 dan 3).

6. Pentahapan PPM :

Berdasarkan berbagai rujukan mengenai konsep PPM maka dibahas tentang tahapan yang perlu dilakukan dalam mengorganisasi dan mengembangkan masyarakat. Pentahapan dalam PPM dilandasi pada pemikiran bahwa proses belajar berlangsung secara bertahap yang disesuaikan dengan sikon kelompok sasaran. Pentahapan ini sekaligus menggambarkan proses pendelegasian wewenang dari petugas kepada kelompok sasaran. Dalam proses pendelegasian wewenang ini maka secara bertahap kelompok sasaran disiapkan agar mampu mandiri. Pentahapan juga bisa dilihat dari segi keterlibatan kelompok sasaran dalam daur pemecahan masalah. Keterlibatan yang semula lebih banyak pada kegiatan yang bersifat pelaksanaan, secara bertahap ditingkatkan untuk terlibat pada kegiatan yang lebih canggih seperti misalnya pemantauan kegiatan, perencanaan dan penilaian.

10.Perencanaan pemasaran gobal

 
Pemasaran Global
Era pasar bebas telah memberikan warna di dalam pergerakanproduk perdagangan dewasa ini. Hambatan perbedaan wilayah Negarabukan menjadi hal yang utama lagi bagi perdagangan global kini. Dansalah satu di antara hambatan teknis dalam perdagangan adalahditerapkannya berbagai macam standardisasi mutu.Mutu merupakan masalah yang sangat penting pada komoditasekspor karena suatu negara memproduksi jenis barang yang diperlukanoleh negara-negara lain yang kurang atau tidak memproduksinya. Danumumnya, negara pengimpor hanya menerima produk bermutu tinggi.Ini berarti negara pengekspor dituntut menghasilkan produk denganmutu yang tinggi dan jumlah yang cukup.Salah satu ciri pemasaran global atau pasar bebas, yaituterjadinya persaingan yang sangat ketat antar negara-negarapengekspor. Makin ketat suatu negara pengekspor mengawasi mutukomoditas ekspornya, makin kuatlah negara-negara itu dalam bersaingdengan negara-negara lainnya.Masalah-masalah yang dihadapi negara pengekspor, termasukIndonesia yang berkaitan dengan mutu komoditas, khususnya produkpertanian, peternakan dan perikanan, yaitu; (1) Persyaratan mutu yangterlalu tinggi yang dikehendaki negara pengimpor; (2) Jumlah denganmutu yang tidak memenuhi quota; (3) Persaingan internasional; (4)Perubahan harga yang terlalu cepat; (5) Adanya proteksi di negarapengimpor dan batas quota; (6) Adanya penolakan komoditas eksporatau claim oleh negara pengimpor.Sebagai gambaran, komoditas ekspor hasil pertanian dariIndonesia pernah ditolak di Jepang, khususnya komoditas udang bekukarena ada indikasi terkontaminasi mikroba berbahaya, yaituSalmonella. Begitu juga Tiongkok baru-baru ini mengklaim
produk hasil perikanan Indonesia mengandung logam berat, yaitumerkuri.Untuk mencegah terjadinya penolakan (claim) atas komoditasekspor yang sangat merugikan itu, diperlukan upaya peningkatan mutuyang ditopang dengan sistem pembinaan mutu dan dikembangkansecara terus-menerus. Untuk itu, pembinaan mutu terhadap komoditasekspor unggulan, perlu dilakukan secara menyeluruh dari tingkatprodusen pertama sampai tingkat eksporter, terutama dalammenindaklanjuti kesepakatan EPA.Konsep Sederhana Pemasaran Global Salah satu dari hal yangmenonjol dari pemasaran adalah "global marketing". Menjual produk keluar negeri membutuhkan perspektif atau pemikiran yang jauh berbedadaripada yang digunakan untuk bisnis yang dipasarkan untuk pasardomestik. Berikut ini adalah beberapa kunci penting dan trend yangharus dipertimbangkan sewaktu melakukan "global marketing".Perbedaan utama antara pasar luar negeri dan domestik terletakpada konteks bagaimana pemasaran dilakukan. Perbedaan dalam halkultur, hukum, komunikasi dan ekonomi semua ini menyebabkantantangan dalam memformulasikan strategi pemasaran. Pemasaran didalam negeri umunya sudah mengenal kultur setempat. Ya, kita sudahmengenal sesama bangsa kita Indonesia, Tetapi pasar luar negerisangat berbeda kebudayaannya dengan kita. Ini adalah tugas parapemasar untuk mencari tahu perbedaannya dari pasar yang ditujutermasuk perilaku konsumennya. Misalnya, di Amerika kita bisamembuat lelucon tentang mertua. Namun di Jepang hal ini tidakdiperkenan. Karena ibu mertua sangat dihormati sekali, dan respekditujukan kepada para lansia

09.Gambaran umum manajemen proyek

GAMBARAN UMUM MANAJEMEN"

KONSEP MANAJEMEN PROYEK
3.1. Spektrum Manajemen
Manajemen proyek perangkat lunak yang efektif berfokus pada tiga P : People (manusia), problem (masalah), process (proses). Urutan ini tidak dapat berubah.
3.1.1. Manusia
Faktor manusia sangat penting sehingga Software Engineering Institute telah mengembangkan sebuah model kematangan kemampuan manajemen manusia (PM-CMM) ”untuk mempertinggi kesiapan organisasi perangkat lunak untuk mengerjakan aplikasi yang semakin kompleks dengan membantu menarik, menumbuhkan, memotivasi, menyebarkan, dan memelihara bakat yang dibutuhkan untuk mengembangan kemampuan perkembangan perangkat lunak mereka”
Model kematangan manajemen manusia membatasi area praktikj berikut kunci bagi masyarakat perangkat lunak : rekruitmen, seleksi, manajemen unjuk kerja, pelatihan, kompensasi, perkembangan karir, desain kerja dan organisasi, dan perkembangan tim/kultur.
3.1.2. Masalah
Sebelum proyek direncanakan, obyektivitas dan ruang lingkupnya harus ditetapkan, pemecahan alternatifnya harus dipertimbangkan, teknik dan bataspun harus didefinisikan. Tanpa informasi ini tidak mungkin melakukan estimasi biaya yang dapat dipertanggungjawabkan (akurat); penilaian yang efektif terhadap resiko; merinci secara realistis tugas-tugas proyek; atau jadwal proyek yang dapat dikelola yang memberikan indikasi kemajuan yang berarti.
Pengembang dan pemakai perangkat lunak harus bertemu untuk menentukan tujuan dan ruang lingkup proyek. Di dalam banyak kasus, aktivitas ini dimulai sebagai bagian dari proses rekayasa sistem dan berlanjut sebagai langkah pertama dalam analisis kebutuhan perangkat lunak.
3.1.3. Proses
Proses perangkat lunak memberikan suatu kerangka kerja di mana rencana komprehensif bagi pengembangan perangkat lunak dapat dibangun. Sejumlah kumpulan tugas yang berbeda – tugas-tugas milestone, kemampuan penyampaian, dan jaminan kualitas – memungkinkan aktivitas kerangka kerja disesuaikan dengan karakteristik proyek perangkat lunak serta kebutuhan tim proyek. Akhirnya aktivitas pelindung seperti jaminan kualitas perangkat lunak, manajemen konfigurasi perangkat lunak, dan pengukurannya – melapisi model proses yang ada.
3.2. Manusia
Hasil dari wawancara dengan beberapa wakil president direktur menandakan pentingnya manusia dalam proses rekayasa perangkat lunak.
3.2.1. Para Pemain
Proses perangkat lunak diisi oleh para pemain yang dapat dikategorikan ke dalam salah satu dalam lima konstituen berikut ini :
1. Manajer Senior, yang menentukan isu-isu bisnis yang sering memiliki pengaruh penting di dalam proyek.
2. Manajer (teknik) Proyek, yang harus merencanakan, memotivasi, mengorganisir, dan mengontrol sebuah produk atau aplikasi.
3. Pelaksana, yang menaympaikan ketrampilan teknik yang diperlukan untuk merekayasa sebuah produk atau aplikasi.
4. Pelanggan, yang menentukan jenis kebutuhan bagi perangkat lunak yang akan direkayasa.
5. Pemakai Akhir, yang berinteraksi dengan perangkat lunak bila perangkat lunak telah dikeluarkan untuk digunakan.
3.2.2. Pimpinan Tim
Jerry Weinberg cenderung mengusulkan model kepemimpinan MOI :
Motivasi. Kemampuan untuk memberi dorongan orang teknik untuk menghasilkan sesuatu dengan kemampuan terbaiknya.
Organisasi. Kemampuan untuk membentuk proses yang sedang berlangsung yang memungkinkan konsep dasar diterjemahkan ke dalam suatu hasil akhir.
Gagasan dan inovasi. Kemampuan untuk mendorong manusia untuk menciptakan dan bertindak kreatif meskipun mereka bekerja di dalam suatu ikatan yang dibangun untuk suatu produk atau aplikasi perangkat lunak yang spesifik.
Pandangan lain tentang karakteristik seorang manajer proyek yang efektif memberikan tekanan pada empat kata kunci :
Pemecahan masalah. Seorang manajer proyek yang efektif dapat mendiagnosis isu-isu organisasi dan teknis yang paling relevan, yang secara sistematis membentuk sebuah pemecahan atau dengan tepat memotivasi para pelaksana yang lain untuk membuat pemecahan.
Identitas manajerial. Seorang manajer proyek yang baik harus bersentuhan secara langsung dengan proyeknya. Dia harus memilki rasa percaya diri untuk melakukan kontrol bila perlu dan membolehkan orang-orang teknik yang baik untuk mengikuti insting mereka.
Prestasi. Untuk mengoptimasi produktivitas sebuah tim proyek, seorang manajer harus memiliki inisiatif dan prestasi, serta dengan caranya sendiri memperlihatkan bahwa pengambilan risiko yang terkontrol tidak akan dikenai hukuman.
Pengaruh dan pembentukan tim. Seorang manajer proyek yang efektif harus mampu “membaca” manusia; dia harus mampu memahami sinyal verbal dan nonverbal serta bereaksi terhadap kebutuhan-kebutuhan orang-orang yang mengirimkan sinyal tersebut. Manajer harus dapat menguasai diri meskipun berada pada situasi tekanan yang sangat tinggi.
3.2.3. Tim Perangkat Lunak
Mantei mengusulkan tiga organisasi tim yang umum :
Demokratis terdesentralisasi (DD). Tim rekayasa perangkat lunak ini tidak memiliki pemimpin yang permanen. Tetapi “koordinator” dipilih untuk bertugas di dalam durasi waktu yang pendek, yang kemudian diganti oleh yang lain yang mungkin bertugas untuk mengkoordinasi tugas-tugas yang berbeda. Keputusan terhadap masalah dan pendekatan yang dilakukan dibuat oleh konsensus kelompok. Komunikasi di antara anggota tim bersifat horisontal.
Terkontrol terdesentralisasi (CD). Tim rekayasa perangkat lunak memiliki pemimpin tertentu yang mengkoordinasi tugas-tugas khusus serta memiliki pemimpin-pemimpin sekunder yang bertanggung jawab atas masalah sub-sub tugas. Pemecahan masalah merupakan aktivitas dari kelompok, tetapi implementasi dari pemecahan masalah dipecah di antara sub-sub kelompok oleh pimpinan tim. Komunikasi antar kelompok dan orang bersifat horisontal, tetapi komunikasi vertikal sepanjang hirarki kontrol juga terjadi di sini.
Terkontrol terdesentralisasi (CC). Koordinasi pemecahan masalah tingkat puncak dan internal tim diatur oleh pimpinan tim. Komunikasi antara pimpinan dan anggota tim bersifat vertikal.
Tabel 3.1. merangkum pengaruh karakteristik proyek terhadap organisasi tim. Karena struktur tersentralisasi dapat menyelesaikan tugas dengan lebih cepat, struktur tsb paling banyak digunakan pada penanganan masalah-masalah yang sederhana. Tim terdesentralisasi memberikan solusi yang lebih banyak dan lebih baik daripada individual sehingga tim semacam itu memiliki kemungkinan keberhasilan lebih banyak pada saat bekerja pada masalah yang sulit. Karena tim CD tersentralisasi untuk penyelesaian masalah, baik struktur tim CD ataupun CC dapat diterapkan dengan baik pada masalah-masalah yang sederhana. Struktur DD merupakan yang terbaik untuk masalah-masalah yang sulit.

Tabel 3.1 Pengaruh karakteristik Proyek Pada Struktur Tim

Tipe tim :
DD
CD
CC

Tingkat kesulitan

Tinggi
X
Rendah
X
X

Ukuran

Besar
X
X
Kecil
X

Umur tim

Singkat
X
X
Panjang
X

Modularitas

Tinggi
X
X
Rendah
X

Keandalan

Tinggi
X
X
Rendah
X

Tanggal pengiriman

Ketat/pasti
X
Longgar
X
X

Sosiabilitas

Tinggi
X
Rendah
X
X
Karena unjuk kerja dari sebuah tim berbanding terbalik dengan jumlah komunikasi yang harus dilakukan, proyek-proyek yang sangat besar paling baik bila diserahkan kepada tim dengan struktur CC atau CD bila kelompok-kelompok sub dapat diakomodasi dengan baik.
Telah dibuktika bahwa struktur tim DD menghasilkan kepuasan kerja dan moral yang tinggi sehingga baik untuk tim dengan jangka waktu hidup yang lama.
Struktur tim DD paling baik diaplikasikan pada masalah-masalah dengan modularitas relatif rendah karena di sini dibutuhkan volume komunikasi yang lebih tinggi. Bila modularitas tinggi dimungkinkan (dan manusia dapat melakukan tugas-tugas mereka sendiri), struktur CC dan DD akan bekerja dengan baik.
Tim CC dan CD terbukti menghasilkan cacat yang lebih sedikit dibanding struktur tim DD, tetapi berhubungan erat dengan aktivitas jaminan kualitas khusus yang diaplikasikan oleh tim tersebut. Tim yang terdesentralisasi biasanya membutuhkan lebih banyak waktu untuk menyelesaikan sebuah proyek daripada struktur yang tersentralisasi, dan pada saat yang sama merupakan pilihan yang terbaik bila sosiabilitas yang tinggi diperlukan.
Constantine mengusulkan empat “paradigma organisasional” bagi tim rekayasa perangkat lunak :
  1. Paradigma tertutup membentuk sebuah tim di sepanjang hirarki otoritas tradisional (sama dengan tim CC). Tim semacam ini dapat bekerja dengan baik pada saat memproduksi perangkat lunak yang sangat mirip dengan apa yang dilakukan sebelumnya; tetapi tim ini kurang inovatif ketika bekerja dalam paradigma tertutup.
  2. Paradigma random membentuk sebuah tim secara longgar dan tergantung pada inisiatif individual anggota tim. Pada saat terobosan inovasi atau teknologi dibutuhkan, tim yang mengikuti paradigma random akan unggul. Tetapi tim semacam ini dapat berjuang keras bila “unjuk kerja yang teratur” diperlukan.
  3. Paradigma terbuka cenderung membentuk tim dengan cara tertentu sehingga tercapai banyak kontrol yang berhubungan dengan paradigma tertutup, tetapi sekaligus juga banyak inovasi pada saat menggunakan paradigma random. Kerja dilakukan secara kolaboratif dengan komunikasi yang sarat serta konsensus yang didasarkan pada pengambilan keputusan. Struktur tim paradigma terbuka sesuai bagi pemecahan masalah-masalah yang kompleks, tetapi tidak akan bekerja seefisien tim yang lain.
  4. Paradigma sinkron bertumpu pada pemggolongan alami dari suatu masalah serta mengorganisasi anggota tim untuk bekerja pada bagian-bagian kecil masalah dengan komunikasi aktif di antara mereka sendiri.